

Matahari pagi belum sepenuhnya naik ketika ponselku berdering nyaring di atas meja nakas hotel mewah tempatku menginap. Layar ponsel menyala, menampilkan nama Anton Danuarta.
Aku menyeruput secangkir black coffee hangatku dengan tenang, membiarkan panggilan itu berdering beberapa kali sebelum akhirnya aku geser tombol hijau.
“Halo?” sapaku santai.
“Clara! Kamu apa-kan semua rekeningku?!” suara di ujung sana langsung meledak, penuh kepanikan dan kemarahan yang luar biasa.
Di latar belakang suara Anton, terdengar suara isak tangis histeris dan teriakan panik milik Valerie. Suasana yang semalam begitu sombong dan penuh tawa mengejek, kini berubah menjadi neraka kecil bagi mereka berdua.
“Semua kartu kreditku ditolak saat dipakai belanja pagi ini! Rekening operasional perusahaan juga dibekukan secara total! Bahkan aplikasi mobile bankingku memblokir aksesku! Jelaskan padaku, Clara! Apa yang sudah kamu lakukan?!” teriak Anton dengan napas memburu.
Aku tersenyum tipis, mendekatkan ponsel ke bibirku dengan suara yang sengaja kubuat pelan, dingin, namun setajam silet.
“Kenapa panik, sayang?” ujarku dengan nada mengejek. “Bukankah semalam kalian bilang aku sudah tidak punya apa-apa lagi? Kalian bilang rumah itu milik kalian, perusahaan itu milik kalian, dan Valerie adalah ratu baru di sana?”
Di seberang sana, napas Anton terdengar tersengat. Ada keheningan sesaat sebelum dia mencoba merendahkan suaranya, berusaha kembali memasang topeng otoritas seorang suami.
“Clara, jangan gila! Ini masalah bisnis dan rumah tangga, jangan dicampuradukkan! Kembalikan akses rekeningku sekarang, atau aku benar-benar akan menghancurkan kariermu di SCBD!” ancamnya, masih diliputi kebodohan yang luar biasa.
“Menghancurkan karierku?” tawaku lepas, renyah namun dingin. “Anton, ingat baik-baik fakta ini: modal awal senilai lima belas miliar yang mendirikan PT Danuarta Sukses Mandiri empat tahun lalu berasal dari rekening pribadiku sebagai lead investment banker. Ruko tempat pertama kali kalian merintis usaha adalah ruko warisan keluarga yang sertifikatnya atas namaku. Dan mengenai rumah megah di Pondok Indah itu… akulah pembayar cash atas akta jual belinya, sementara kamu hanya menumpang mencatatkan namamu di PBB karena aku kasihan pada harga dirimu.”
Blarr!
Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong yang meruntuhkan seluruh dunia khayalan Anton dalam sekejap.
“T-tidak… itu tidak mungkin… Akulah direktur utamanya! Akulah bosnya!” jerit Anton frustrasi, suaranya bergetar hebat.
“Direktur tanpa modal hanyalah pesuruh yang kebetulan digaji, Anton,” potongku tajam. “Dan mulai detik ini, gajimu resmi berhenti. Pak Hendra, pengacaraku, sedang dalam perjalanan menuju kantormu bersama tim auditor forensik. Seluruh aset perusahaan yang dibeli menggunakan suntikan dana pribadiku akan disita atas putusan pengadilan perdata akibat wanprestasi dan penggelapan aset keluarga.”
Terdengar suara ponsel terhempas di seberang sana, disusul suara Valerie yang menjerit histeris meneriakkan nama Anton karena menyadari kartu belanja mewah dan fasilitas VVIP mereka lenyap dalam sekejap.
BAGIAN 3: AKHIR DARI SEBUAH SANDIWARA
Dua minggu berlalu dengan cepat. Dunia perbankan SCBD gempar ketika berita kebangkrutan PT Danuarta Sukses Mandiri meledak di berbagai media bisnis. Anton, yang selama ini dikenal sebagai pengusaha muda sukses yang arogan, ternyata hanyalah pria bermental pengecut yang hidup di atas punggung istrinya sendiri.
Perusahaan itu resmi disegel. Rekening pribadi Anton terkuras habis untuk membayar utang-utang operasional yang selama ini dia tutupi dari laporan keuangannya.
Sore itu, saat aku sedang duduk di ruang kerja kantorku yang menghadap langsung ke panorama pencakar langit Jakarta, pintu ruanganku diketuk pelan. Sekuriti kantor mengantar seseorang masuk ke dalam.
Sosok itu sangat kontras dengan penampilan sombongnya dua minggu lalu. Anton berdiri di hadapanku dengan kemeja kusut, rambut acak-acakan, dan mata merah menyala karena kurang tidur. Di belakangnya, tidak ada lagi bayangan Valerie. Perempuan itu langsung kabur meninggalkan Anton begitu tahu kekasihnya jatuh miskin dan terbelit utang miliaran rupiah.
Anton berlutut di lantai karpet ruang kerjaku, mencoba meraih ujung sepatu hak tinggiku dengan tangan yang gemetar.
“Clara… kumohon… maafkan aku. Aku khilaf. Valerie itu cuma perempuan jalang yang memanfaatkanku. Aku masih suamimu… kita bisa mulai semuanya dari awal lagi, Clara. Kumohon…” ratapnya putus asa, air matanya menetes membasahi lantai.
Aku menunduk, menatap pria yang dulu kucintai dan kubesarkan namanya dengan tatapan hampa tanpa secercah pun rasa iba.
Kutendang pelan ujung sepatuku dari genggamannya, lalu aku berdiri dengan anggun, merapikan blazer hitam yang melekat sempurna di tubuhku.
“Mulai dari awal?” ucapku tenang. “Maaf, Anton. Kursi di sebelahku terlalu tinggi untuk pria bermental parasit sepertimu.”
Aku melangkah melewati tubuhnya menuju jendela besar, membiarkan cahaya senja SCBD menyinari wajahku dengan penuh kemenangan.
“Berkas perceraian kita sudah final di meja pengadilan. Rumah di Pondok Indah akan dilelang minggu depan untuk menutup sisa kerugian investasi. Kamu sudah kehilangan segalanya, Anton. Dan kali ini… tidak ada lagi ratu yang akan datang untuk menyelamatkanmu.”
Anton menangis histeris di lantai kosong ruang kerjaku, sementara aku melangkah pergi meninggalkan masa lalu yang busuk, menyongsong masa depan di mana akulah penguasa mutlak atas hidupku sendiri.