DI HARI PERNIKAHANKU, CALON SUAMIKU MENYURUHUKU NAIK TAKSI SEWAAN AGAR MOBIL PENGANTIN UTAMA BISA DIBERIKAN KEPADA ASISTENNYA — AKU MASUK KE DALAMNYA DAN BERKATA KEPADA SOPIR: “JANGAN PERGI KE GEREJA”
“Berikan dulu mobil pengantintah ke Cheska, kamu naik taksi tua itu saja…”
Dua belas mobil hitam mewah berbaris rapi di lantai bawah unit apartemenku. Di barisan paling depan, terparkir sebuah Rolls-Royce Phantom keluaran terbaru—mobil pengantin yang aku pilih sendiri dengan teliti. Mobil itu dihiasi oleh ribuan mawar merah segar dan bunga baby’s breath.
Hari ini adalah hari pernikahanku.
Aku berdiri di depan cermin, mengenakan gaun pengantin mewah hasil rancangan desainer ternama. Kata penata rias (MUA) sambil memoleskan sentuhan terakhir lipstik di bibirku, “Mbak Alyssa, dari semua pengantin yang pernah saya tangani, Mbak sepertinya yang paling cantik.”
Aku tersenyum tipis. Aku mengambil tas gaun, mengenakan sepatu hak tinggi Jimmy Choo kesayanganku, lalu melangkah keluar untuk turun menuju tempat pemberkatan.
Namun, sebelum aku sempat melangkah ke lift, calon suamiku, Dimas, dengan cepat menghampiriku. Ia terlihat tampan dalam balutan jas tailor-made, tetapi tidak ada secercah pun ekspresi kebahagiaan di wajahnya. Sebaliknya, wajahnya dipenuhi kecemasan dan keraguan.
Ia tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat—begitu kuat hingga kulitku memerah.
“Alyssa, kita ngobrol sebentar. Tolong, ngertilah sedikit,” ucapnya langsung, tanpa sedikit pun tatapan kagum di matanya.
Aku menatapnya tajam. “Kenapa? Ada apa, Dimas?” “Penyakit jantung Cheska kambuh lagi.”
Cheska lagi. Sejak hari pertama aku mengenal perempuan itu—yang selalu diagung-agungkan sebagai “sahabat masa kecil” Dimas—kondisi jantungnya seolah tidak pernah benar-benar stabil. Setiap kali ada momen atau acara penting dalam hidupku dan Dimas, jantungnya selalu saja kambuh.
“Dokter bilang dia tidak boleh terkena angin terlalu kencang,” lanjut Dimas tanpa henti, jelas terlihat sangat khawatir. “Bisa tidak kalau dia naik mobil pengantintah dulu? Di dalam sana lebih hangat dan lebih nyaman.”
Keningku berkerut. “Apa? Rolls-Royce? Dimas, itu mobil pengantin. Aku pengantin wanitanya hari ini.”
“Aku tahu! Tapi cobalah pakai logika sedikit, Alyssa!” bentaknya dengan suara tertahan dan kesal, berusaha meredamnya agar tidak didengar orang lain. “Kamu pikir kamu tidak bisa naik mobil lain? Naik saja mobil paling belakang di barisan itu, gabung sama para bridesmaid. Ruangannya luas kok!”
Aku melihat ke arah telunjuknya menunjuk. Di ujung paling belakang dari barisan dua belas mobil mewah itu, terparkir sebuah Toyota Corolla putih tua. Ada tulisan “JUST MARRIED” dari kertas kusam yang ditempel di kaca belakangnya. Pintunya lecet dan kelihatannya bisa mogok kapan saja di tengah jalan. Itu hanyalah taksi sewaan biasa yang dijadikan mobil cadangan.
Sementara itu, tepat di sebelah Rolls-Royce Phantom, Cheska berdiri. Ia tidak mengenakan pakaian bridesmaid. Ia memakai gaun putih elegan yang modelnya hampir mirip persis dengan gaun pengantinku. Wajahnya dirias penuh dan rambutnya tertata rapi.
Saat pandangan kami bertemu, ia perlahan menunduk, memegang dadanya, lalu batuk pelan. Namun di balik kelemahannya itu, aku melihat ujung bibirnya terangkat tipis.
Sebuah senyuman kemenangan. Senyuman yang seolah berkata: Dimas milikku. Di hari pernikahanmu sekalipun, dia tetap akan mendahulukanku.
Dimas kembali mempererat genggamannya di tanganku. Tatapannya memohon. “Alyssa, ini cuma sekali ini saja. Tolong, jangan bikin keributan. Orang itu lagi sakit. Jangan terlalu egois. Ini hari kita, aku tidak mau rusak cuma karena rasa cemburuku—eh, rasa iri kamu.”
Iri?
Aku menatap Dimas. Aku menatap pria yang kujaga hatinya selama dua belas tahun terakhir. Keluarga, tim MUA, para fotografer, dan para bridesmaid berdiri mengitari kami. Seluruh lorong mendadak sunyi. Semua orang menunggu apakah aku akan meledak dalam kemarahan atau menangis histeris.
Aku terdiam selama beberapa detik. Dan kemudian… aku tertawa kecil. Tawa yang dingin dan tanpa emosi.
“Baiklah,” jawabku singkat.
Dimas menghela napas lega. Beban yang sangat berat seolah terangkat dari dadanya. “Makasih ya, Alyssa! Nanti kita ngobrol lagi di gedung resepsi. Hati-hati di jalan ya,” katanya cepat sambil melepaskan tanganku.
Ia bahkan tidak membantuku merapikan gaun. Dimas langsung berlari tergopoh-gopoh menghampiri Cheska, merangkul pinggang perempuan itu, dan membukakan pintu mobil Rolls-Royce secara pribadi. Ia bahkan menahan kepala Cheska dengan tangannya agar tidak terbentur pintu mobil.
Sebelum masuk ke dalam mobil pengantin, Cheska melirik ke arahku sekali lagi. Ada kilatan kesombongan di matanya sambil melambaikan tangan layaknya seorang ratu.
Rasa sakit menghujam dadaku, namun aku tidak meneteskan air mata. Sekalipun kenyataan itu terasa menyakitkan, perlahan-lahan kejernihan yang dingin mulai menguasai pikiranku. Pikiranku melayang pada dua belas tahun ke belakang—tahun-tahun yang kuhabiskan dengan terus mengalah, memaklumi, dan mengerti bahwa Cheska hanyalah “sebatas sahabat” bagi Dimas.
Aku merapikan pegangan pada gaun beratku dan berjalan menuju taksi putih tua itu.
“Mbak Alyssa! Ada apa sih? Kenapa Mbak mau?!” tanya Katrina, ketua bridesmaid-ku, dengan nada kesal bercampur khawatir.
Aku menatapnya dan tersenyum sangat tipis. “Kat, kalian naik mobil yang lain saja. Langsung berangkat ke gedung ya.” “Terus Mbak bagaimana?!” “Ada urusan sebentar.”
Aku masuk ke dalam kursi belakang taksi tua itu. Aroma di dalamnya merupakan campuran antara bau rokok dan pewangi mobil murahan. Pengemurinya adalah seorang bapak-bapak berkaus singlet, yang tampak bosan karena terlalu lama menunggu.
“Non, ini mobil pengantin juga? Kita jalan ke hotel mana atau gereja mana nih?” tanya sang sopir sambil melirik dari spion tengah.
Dari balik kaca jendela, aku melihat Dimas berdiri di samping mobil Phantom, melambaikan tangan ke arahku sambil memberi gestur “Makasih ya, nanti aku tebus kesalahannya.”
Aku mengalihkan pandanganku darinya. Aku menurunkan kaca jendela mobil dan menatap sang sopir. “Pak… kita tidak usah ke hotel. Jangan juga ke gereja.”
Sopir itu tampak kebingungan. “Hah? Terus kita mau ke mana, Non? Hari ini kan hari pernikahan Mbak?”
Aku menyerahkan selembar uang seratus ribuan dan menyebutkan sebuah alamat. Tempat yang tidak diketahui siapa pun—sebuah unit apartemen baru yang kubeli dengan hasil jerih payah uangku sendiri, yang tidak pernah diketahui oleh Dimas.
“Kita ke sana saja, Pak. Tolong cepat ya,” ucapku dengan suara dingin.
Mobil mulai melaju, mesinnya berderit pelan, lalu perlahan meninggalkan barisan dua belas mobil mewah tersebut. Sementara seluruh rombongan pengantin menuju ke lokasi resepsi di sebuah hotel bintang lima di pusat kota Jakarta, aku melaju ke arah sebaliknya.
Beberapa menit kemudian, ponselku mulai bergetar. Dimas Calling… Aku menolak panggilannya.
Dimas Calling… Aku menolaknya lagi.
Panggilan ketiga, keempat, kelima… Disusul pula dengan rentetan pesan teks dari keluarganya. Dengan tenang, aku mematikan ponselku.
Aku memasukkan kartu SIM baru ke dalam ponsel cadanganku. Aku mengetik sebuah pesan pendek untuk orang tuaku: “Mama, Papa, batalkan saja pernikahannya. Tolong beri tahu para tamu untuk pulang. Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku. Aku tidak akan meneruskan pernikahan dengan laki-laki yang tidak pernah memilihku.”
Setibanya di unit apartemenku sendiri, aku naik ke lantai atas seorang diri, menenteng gaun pengantin yang amat berat.
Aku membuka pintu menggunakan pemindai sidik jari. Aku masuk ke ruang tamu yang sunyi dan bersih. Kesunyian menyelimuti seluruh ruangan. TIDAK ADA Dimas. TIDAK ADA Cheska. TIDAK ADA keluarga pria yang selalu ikut campur dalam hidupku.
Aku melepas sepatu hak Jimmy Choo di kakiku dan berjalan tanpa alas kaki menuju cermin besar yang menghadap langsung ke pemandangan kota.
Aku menatap pantulan diriku di cermin. Aku masih terlihat sangat cantik. Tapi gaun ini… gaun ini adalah simbol dari dua belas tahun kehidupanku yang hanya menjadi pilihan kedua di hidup pria yang kusediakan masa depanku.
Aku mengambil sebuah gunting besar dari dapur. Aku berjalan ke tengah ruangan, membentangkan kain mewah gaun pengantinku di lantai… Dan perlahan, aku mengarahkan gunting itu ke bagian bawah gaun tersebut.
KREK.
Suara guntingan yang tajam memecah kesunyian ruangan itu.

KREK.
Kain sutra dan renda buatan tangan desainer Paris itu terbelah dua. Sekali lagi gunting itu bergerak—KREK—merobek bordiran mutiara yang berharga ratusan juta rupiah. Potongan demi potongan jatuh ke lantai marmer seperti serpihan ilusi dua belas tahun yang akhirnya hancur lebur.
Tidak ada tangisan. Yang kurasakan justru kelegaan yang luar biasa dingin, seakan beban seberat gunung perlahan terangkat dari pundakku.
Aku melucuti gaun yang telah koyak itu, melemparnya ke sudut ruangan, lalu mengenakan celana jins pudar dan kaos katun hitam. Wajahku kubersihkan dengan minyak pembersih hingga riasan tebal pengantin luntur tanpa sisa. Pantulan di cermin kini bukan lagi pengantin wanita yang pasrah ditindas, melainkan Alyssa yang berdaulat atas hidupnya sendiri.
Ponsel cadanganku berdenting. Sebuah pesan masuk dari papaku: “Mama dan Papa sudah mengumumkan pembatalan di hadapan seluruh tamu. Kami bangga padamu, Nak. Pergilah sejauh yang kamu mau, Papa yang urus sisanya di sini.”
Air mataku hampir jatuh, kali ini karena rasa syukur. Aku memiliki keluarga yang tegak di belakangku, bukan keluarga yang menuntutku menelan rasa malu demi nama baik.
Sementara itu, di gereja katedral dan ballroom hotel bintang lima, kekacauan meledak menjadi tontonan paling memalukan dalam sejarah keluarga Dimas.
Rombongan dua belas mobil mewah tiba di pelataran dengan megah. Dimas turun lebih dulu, membenarkan dasinya, lalu dengan bangga membukakan pintu Rolls-Royce Phantom. Sorot kamera wartawan dan tamu undangan langsung menyala.
Namun, yang melangkah keluar dari mobil pengantin utama bukanlah sang mempelai wanita.
Cheska, dengan gaun putihnya yang mencolok dan senyum tersipu yang dibuat-buat, keluar sambil berpegangan pada lengan Dimas. Beberapa tamu yang mengenalku mulai berbisik bingung. Wartawan saling melempar pandang.
Dimas baru tersadar ketika menoleh ke arah barisan mobil di belakangnya. Corolla putih tua itu tidak ada. Taksi sewaan itu lenyap.
“Di mana Alyssa?” tanya Dimas panik pada Katrina, yang baru turun dari mobil ketiga.
Katrina menatap Dimas dengan pandangan jijik yang tak ditutup-tutupi. “Bukannya kamu yang menyuruh pengantinmu naik taksi rongsokan demi ‘sahabat sakit-sakitanmu’ ini? Alyssa tidak pernah naik taksi itu ke sini, Dimas. Dia pergi.”
Wajah Dimas seketika memutih. “Apa maksudmu pergi?! Ini hari pernikahan kami!”
“Pernikahan yang mana?” suara bariton yang berat memotong dari arah pintu masuk gereja. Papaku melangkah keluar, diiringi Mama dan beberapa pengacara keluarga kami.
“Om—Papa, tolong, Alyssa—”
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Dimas. Bukan dari Papaku, melainkan dari Mama. Tangannya bergetar menahan amarah, matanya berkilat tajam.
“Jangan pernah panggil aku dengan sebutan itu lagi, anak tidak tahu diuntung!” seru Mama di depan ratusan pasang mata yang ternganga. “Dua belas tahun anakku merawatmu, membangun bisnismu dari nol dengan modal keluargaku, memaafkan setiap ulah manja perempuan benalu ini! Dan hari ini, di hari yang seharusnya miliknya, kamu memperlakukannya seperti sampah di hadapan bawahanmu?!”
“Tante, tolong… jantung saya…” Cheska tiba-tiba terhuyung, menyandarkan tubuhnya ke dada Dimas, berharap dramanya mempan seperti biasa.
Namun Papaku bahkan tidak meliriknya. Papa mengambil mikrofon pengeras suara yang dibawa oleh petugas keamanan gedung. Suara Papa menggema ke seluruh pelataran, disiarkan langsung oleh beberapa awak media yang hadir:
“Kepada seluruh keluarga besar, rekan bisnis, dan para tamu terhormat: Pernikahan antara putri kami, Alyssa Pratama, dengan Dimas Sanjaya, resmi DIBATALKAN. Tidak akan ada resepsi, tidak akan ada ikatan keluarga. Seluruh hidangan dan fasilitas hotel hari ini telah dibayar penuh oleh keluarga Pratama, silakan Anda sekalian nikmati sebagai santap siang. Dan untuk Saudara Dimas…” Papa menatap pria itu dingin. “…mulai detik ini, seluruh suntikan dana investasi sebesar empat puluh lima persen dari Pratama Group ke perusahaanmu ditarik seketika. Surat pemutusan kerja sama dan audit forensik akan tiba di mejamu besok pagi.”
Kerumunan mendengung riuh. Ponsel para tamu merekam detik demi detik keruntuhan Dimas Sanjaya.
Dimas terhuyung mundur seolah dihantam godam raksasa. “Om! Tidak bisa begitu! Perusahaan kami sedang ekspansi, kami butuh dana itu! Alyssa! Di mana Alyssa?!”
Ia mendorong Cheska menjauh—begitu kasar hingga perempuan itu tersandung gaunnya sendiri dan jatuh terduduk di aspal. Rasa khawatir Dimas pada ‘jantung lemah’ Cheska mendadak menguap tanpa sisa saat reputasi dan uangnya yang menjadi taruhan.
“Dimas… sakit…” rintih Cheska, kini benar-benar terkejut melihat pria yang selalu memprioritaskannya menatapnya dengan kebencian murni.
“Diam kamu, Cheska!” bentak Dimas di depan semua orang, urat lehernya menonjol. “Kalau bukan gara-gara kamu merengek minta naik mobil itu, Alyssa tidak akan kabur! Semuanya hancur karena kamu!”
Cheska mematung di lantai aspal. Senyum kemenangan yang sempat ia pamerkan kepadaku di apartemen kini berganti menjadi kehinaan mutlak di hadapan kalangan sosialita Jakarta.
Tiga minggu berlalu.
Aku menghabiskan waktu di sebuah vila terpencil di Bali Utara, menikmati angin laut tanpa ada dering telepon yang menuntutku untuk selalu “mengerti dan mengalah”. Berita kehancuran Dimas menjadi konsumsi publik selama berhari-hari. Tanpa modal dari keluargaku, para investor lain menarik diri karena takut terjerat audit. Kantornya bangkrut dalam hitungan minggu.
Aku mendengar kabar bahwa Cheska langsung menghilang dari kehidupan Dimas begitu tahu pria itu terlilit hutang miliaran rupiah. ‘Penyakit jantung’ yang selalu kumat setiap kali ada acara penting rupanya sembuh seketika saat uangnya lenyap.
Sore itu, sebelum aku terbang ke London untuk melanjutkan gelar master yang sempat kutunda demi mendukung karier Dimas, aku kembali ke Jakarta untuk menandatangani dokumen pembatalan legal di hadapan notaris.
Saat keluar dari gedung kantor notaris, sesosok pria berantakan berlari menerobos penjaga keamanan.
Itu Dimas.
Jas tailor-made yang dulu ia banggakan kini kusut dan kotor. Matanya merah cekung, tubuhnya kurus, aroma alkohol tercium dari jaketnya.
“Alyssa! Tolong, Alyssa, beri aku satu menit saja!” teriaknya bersujud di tangga trotoar, berusaha menggapai ujung sepatuku. Para petugas keamanan langsung menahannya.
Aku berhenti, menatapnya dari atas anak tangga. Tidak ada kemarahan lagi di dadaku. Hanya ada kekosongan yang dingin.
“Alyssa, aku salah. Aku bersumpah demi Tuhan aku salah,” rintihnya dengan air mata mengalir membasahi pipinya. “Cheska sudah pergi… dia meninggalkanku begitu aku bangkrut. Kamu yang selalu ada untukku selama dua belas tahun, cuma kamu yang tulus mencintaiku! Tolong kembali, kita mulai lagi dari awal… aku mohon…”
Aku memandangnya lurus ke dalam matanya.
“Dimas,” ucapku pelan, namun setiap kata terucap dengan ketegasan yang mutlak. “Kamu tidak mencintaiku. Kamu hanya terbiasa memiliki seseorang yang selalu bisa kamu korbankan tanpa takut kehilangan.”
Napasnya tertahan.
“Dua belas tahun aku memberimu hatiku, dan kamu menukarnya dengan sebuah taksi sewaan di hari pernikahanku sendiri,” lanjutku tenang. “Hari itu, saat mobil tua itu melaju meninggalkanmu, aku bukan hanya meninggalkan sebuah pernikahan. Aku meninggalkan versi diriku yang bodoh.”
Aku berbalik menuju mobil hitam yang sudah menungguku—bukan Rolls-Royce sewaan, melainkan mobil pribadiku yang bersih dan nyaman.
“Alyssa! Jangan pergi, tolong!” raungnya putus asa di belakangku.
Aku masuk ke kursi belakang, menutup pintu, dan menyandarkan punggungku dengan nyaman. Sopirku menatap dari spion tengah.
“Ke mana kita sekarang, Bu Alyssa?”
Aku tersenyum—senyuman tulus pertama yang kurasakan setelah bertahun-tahun.
“Ke bandara, Pak. Waktunya memulai hidup baru.”
Mobil melaju membelah jalanan sore Jakarta, meninggalkan masa lalu yang membusuk di belakang, menuju masa depan yang sepenuhnya milikku sendiri.