SELINGKUHAN SUAMIKU KIRA DIA SUDAH MERAMPAS SEGALANYA—SUAMIKU, RUMAH MEWAHKU

SELINGKUHAN SUAMIKU KIRA DIA SUDAH MERAMPAS SEGALANYA—SUAMIKU, RUMAH MEWAHKU, DAN POSISIKU. DIA TERTAWA SAMBIL MENCIBIR, “KAMU SUDAH TIDAK PUNYA APA-APA LAGI, SEKARANG AKU RATUNYA DI SINI!”… AKU HANYA DIAM DAN PERGI MEMBAWA KOPERKU. TAPI KEESOKAN PAGINYA, DIA MENELEPONKU SAMBIL PANIK SETENGAH MATI, “KENAPA SEMUA REKENINGKU DIBEKUKAN?!” JAWABANKU LANGSUNG MERUNTUHKAN DUNIANYA…
Namaku Clara, tiga puluh tahun, seorang investment banker sukses di kawasan SCBD Jakarta. Sudah empat tahun aku membina rumah tangga bersama suamiku, Anton. Pada awalnya, aku mengira pernikahan kami begitu sempurna. Akulah yang menyuntikkan seluruh modal awal untuk mendirikan perusahaannya, dan aku pula yang membeli rumah megah dua lantai bergaya modern tropis di Pondok Indah tempat kami tinggal. Selama ini, aku sengaja membiarkan Anton tampil sebagai “bos besar” di mata publik demi menjaga harga dirinya sebagai seorang pria dan kepala keluarga.
Namun, balasan atas semua pengorbananku hanyalah sebuah pengkhianatan yang menjijikkan.
Aku mengetahui bahwa dia berselingkuh dengan Valerie, vice president di perusahaannya sendiri. Mereka mengira aku buta dan tuli. Sengaja kubiarkan mereka menikmati masa-masa di atas angin, sampai akhirnya tiba hari di mana mereka berani menginjak-injak harga diriku di dalam rumahku sendiri.
KLAIM SANG PELAKOR
Malam itu, aku baru saja mendarat dari perjalanan bisnis di Singapura. Begitu melangkahkan kaki ke dalam ruang tengah, pemandangan memuakkan langsung menyambut mataku.
Anton duduk santai di sofa kulit sambil menyesap wine. Di sampingnya, Valerie bergelayut manja di lengannya. Di sudut ruangan, berserak beberapa koper mahal dan kantong belanjaan bermerek milik Valerie—tanda bahwa perempuan itu baru saja berbelanja foya-foya dan sudah bersiap angkat kaki ke rumahku.
Melihat kedatanganku, tak ada sedikit pun raut terkejut atau rasa malu di wajah mereka. Valerie malah bangkit berdiri, menatapku sinis dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu melempar tawa meremehkan.
“Oh, si istri membosankan akhirnya pulang juga. Clara, nggak usah pura-pura baik lagi ya. Aku dan Mas Anton sudah lama saling mencintai. Aku yang bisa memberinya kebahagiaan dan gairah yang nggak akan pernah bisa kamu kasih,” cibir sang pelakor dengan nada suara tinggi dan congkak.
Alisku terangkat. Aku mengalihkan pandangan dingin ke arah Anton.
“Anton? Kamu membiarkan wanita simpananmu bicara sekasar itu di dalam rumahku?” tanyaku tenang tanpa nada gemetar.
Anton tertawa getir sambil bersedekap dada, menatapku angkuh.
“Rumahmu? Clara, perusahaan punyaku yang membayar cicilan dan maintenance rumah ini setiap bulan. Di sini aku kepala rumah tangganya! Dan Valerie benar, kita selesai. Aku sudah menyuruh pengacaraku menyiapkan berkas perceraian. Serahkan rumah mewah ini sebagai harta gono-gini kalau kamu tidak mau aku permalukan nama baikmu di dunia perbankan!” ancam suamiku tanpa hati nurani.
Valerie melangkah mendekat, lalu dengan lancang mendorong bahuku pelan dengan telunjuknya.
“Kamu dengar kan? Kamu sudah kehilangan segalanya, Clara. Aku sudah merebut suamimu, rumah megahmu, dan posisimu di keluarga ini. Sekarang aku ratunya di sini, dan kamu cuma sampah yang nggak berguna. Ambil kopermu dan angkat kaki sekarang juga!” serunya terbahak-bahak penuh kepuasan.
KEPERGIAN YANG SENYAP
Aku terpaku sejenak menatap mereka berdua. Seorang pria yang kubesarkan namanya dengan uang dan koneksiku, serta seorang wanita simpanan murahan yang merasa sudah memenangkan dunia. Mereka jelas menunggu amarahku meledak—berharap aku menjambak rambut Valerie, menangis histeris, atau bersujud di kaki Anton.
Kalian pikir aku perempuan lemah yang bodoh? Kalian pikir aku akan merelakan begitu saja aset bernilai miliaran rupiah yang kubangun dengan keringatku sendiri? Nikmatilah malam kemenangan semu kalian, karena besok pagi, aku yang akan menarik karpet tempat kalian berpijak hingga kalian jatuh tersungkur.
Kuhirup napas panjang perlahan. Tak setetes pun air mata kubiarkan jatuh. Bibirku justru menyunggingkan senyum yang sangat dingin.
“Baiklah. Enjoy your new home,” sahutku pelan dan lugas.
Kutarik koperku yang ternyata sudah mereka letakkan di dekat pintu depan. Tanpa sepatah kata umpatan pun, aku berbalik dan melangkah keluar rumah. Dari balik pintu kayu jati yang kututup rapat, suara tawa puas dan denting gelas kaca mereka masih terdengar menggema.
Aku masuk ke dalam mobil sedan hitamku. Begitu pintu terkunci rapat, kubuka laptop dan ponsel pintarku. Jari-jariku bergerak cepat menekan panggilan darurat ke pengacara pribadiku dan pimpinan kantor cabang bank swasta tempat semua asetku dikelola.
“Pak Hendra, tolong aktifkan klausul pembatalan investasi sekarang juga. Tarik seluruh suntikan modal atas nama saya, bekukan rekening operasional perusahaan maupun rekening pribadi Anton Danuarta. Dan batalkan seluruh kartu kredit black card tambahan atas nama Valerie Natasya malam ini tanpa terkecuali,” perintahku dingin dan tegas.

Matahari pagi belum sepenuhnya naik ketika ponselku berdering nyaring di atas meja nakas hotel mewah tempatku menginap. Layar ponsel menyala, menampilkan nama Anton Danuarta.

Aku menyeruput secangkir black coffee hangatku dengan tenang, membiarkan panggilan itu berdering beberapa kali sebelum akhirnya aku geser tombol hijau.

“Halo?” sapaku santai.

“Clara! Kamu apa-kan semua rekeningku?!” suara di ujung sana langsung meledak, penuh kepanikan dan kemarahan yang luar biasa.

Di latar belakang suara Anton, terdengar suara isak tangis histeris dan teriakan panik milik Valerie. Suasana yang semalam begitu sombong dan penuh tawa mengejek, kini berubah menjadi neraka kecil bagi mereka berdua.

“Semua kartu kreditku ditolak saat dipakai belanja pagi ini! Rekening operasional perusahaan juga dibekukan secara total! Bahkan aplikasi mobile bankingku memblokir aksesku! Jelaskan padaku, Clara! Apa yang sudah kamu lakukan?!” teriak Anton dengan napas memburu.

Aku tersenyum tipis, mendekatkan ponsel ke bibirku dengan suara yang sengaja kubuat pelan, dingin, namun setajam silet.

“Kenapa panik, sayang?” ujarku dengan nada mengejek. “Bukankah semalam kalian bilang aku sudah tidak punya apa-apa lagi? Kalian bilang rumah itu milik kalian, perusahaan itu milik kalian, dan Valerie adalah ratu baru di sana?”

Di seberang sana, napas Anton terdengar tersengat. Ada keheningan sesaat sebelum dia mencoba merendahkan suaranya, berusaha kembali memasang topeng otoritas seorang suami.

“Clara, jangan gila! Ini masalah bisnis dan rumah tangga, jangan dicampuradukkan! Kembalikan akses rekeningku sekarang, atau aku benar-benar akan menghancurkan kariermu di SCBD!” ancamnya, masih diliputi kebodohan yang luar biasa.

“Menghancurkan karierku?” tawaku lepas, renyah namun dingin. “Anton, ingat baik-baik fakta ini: modal awal senilai lima belas miliar yang mendirikan PT Danuarta Sukses Mandiri empat tahun lalu berasal dari rekening pribadiku sebagai lead investment banker. Ruko tempat pertama kali kalian merintis usaha adalah ruko warisan keluarga yang sertifikatnya atas namaku. Dan mengenai rumah megah di Pondok Indah itu… akulah pembayar cash atas akta jual belinya, sementara kamu hanya menumpang mencatatkan namamu di PBB karena aku kasihan pada harga dirimu.”

Blarr!

Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong yang meruntuhkan seluruh dunia khayalan Anton dalam sekejap.

“T-tidak… itu tidak mungkin… Akulah direktur utamanya! Akulah bosnya!” jerit Anton frustrasi, suaranya bergetar hebat.

“Direktur tanpa modal hanyalah pesuruh yang kebetulan digaji, Anton,” potongku tajam. “Dan mulai detik ini, gajimu resmi berhenti. Pak Hendra, pengacaraku, sedang dalam perjalanan menuju kantormu bersama tim auditor forensik. Seluruh aset perusahaan yang dibeli menggunakan suntikan dana pribadiku akan disita atas putusan pengadilan perdata akibat wanprestasi dan penggelapan aset keluarga.”

Terdengar suara ponsel terhempas di seberang sana, disusul suara Valerie yang menjerit histeris meneriakkan nama Anton karena menyadari kartu belanja mewah dan fasilitas VVIP mereka lenyap dalam sekejap.

BAGIAN 3: AKHIR DARI SEBUAH SANDIWARA

Dua minggu berlalu dengan cepat. Dunia perbankan SCBD gempar ketika berita kebangkrutan PT Danuarta Sukses Mandiri meledak di berbagai media bisnis. Anton, yang selama ini dikenal sebagai pengusaha muda sukses yang arogan, ternyata hanyalah pria bermental pengecut yang hidup di atas punggung istrinya sendiri.

Perusahaan itu resmi disegel. Rekening pribadi Anton terkuras habis untuk membayar utang-utang operasional yang selama ini dia tutupi dari laporan keuangannya.

Sore itu, saat aku sedang duduk di ruang kerja kantorku yang menghadap langsung ke panorama pencakar langit Jakarta, pintu ruanganku diketuk pelan. Sekuriti kantor mengantar seseorang masuk ke dalam.

Sosok itu sangat kontras dengan penampilan sombongnya dua minggu lalu. Anton berdiri di hadapanku dengan kemeja kusut, rambut acak-acakan, dan mata merah menyala karena kurang tidur. Di belakangnya, tidak ada lagi bayangan Valerie. Perempuan itu langsung kabur meninggalkan Anton begitu tahu kekasihnya jatuh miskin dan terbelit utang miliaran rupiah.

Anton berlutut di lantai karpet ruang kerjaku, mencoba meraih ujung sepatu hak tinggiku dengan tangan yang gemetar.

“Clara… kumohon… maafkan aku. Aku khilaf. Valerie itu cuma perempuan jalang yang memanfaatkanku. Aku masih suamimu… kita bisa mulai semuanya dari awal lagi, Clara. Kumohon…” ratapnya putus asa, air matanya menetes membasahi lantai.

Aku menunduk, menatap pria yang dulu kucintai dan kubesarkan namanya dengan tatapan hampa tanpa secercah pun rasa iba.

Kutendang pelan ujung sepatuku dari genggamannya, lalu aku berdiri dengan anggun, merapikan blazer hitam yang melekat sempurna di tubuhku.

“Mulai dari awal?” ucapku tenang. “Maaf, Anton. Kursi di sebelahku terlalu tinggi untuk pria bermental parasit sepertimu.”

Aku melangkah melewati tubuhnya menuju jendela besar, membiarkan cahaya senja SCBD menyinari wajahku dengan penuh kemenangan.

“Berkas perceraian kita sudah final di meja pengadilan. Rumah di Pondok Indah akan dilelang minggu depan untuk menutup sisa kerugian investasi. Kamu sudah kehilangan segalanya, Anton. Dan kali ini… tidak ada lagi ratu yang akan datang untuk menyelamatkanmu.”

Anton menangis histeris di lantai kosong ruang kerjaku, sementara aku melangkah pergi meninggalkan masa lalu yang busuk, menyongsong masa depan di mana akulah penguasa mutlak atas hidupku sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *