DI HARI PERNIKAHAN KAMI, TUNANGANKU MENYURUHKU NAIK TAKSI TUA AGAR MOBIL

DI HARI PERNIKAHAN KAMI, TUNANGANKU MENYURUHKU NAIK TAKSI TUA AGAR MOBIL PENGANTIN BISA DIPAKAI ASISTENNYA — AKU MASUK KE TAKSI DAN BERKATA PADA SOPIR: “JANGAN KE GEDUNG PERNIKAHAN”
“Berikan dulu wedding car-nya ke Cheska, kamu naik taksi sewaan di belakang saja ya…”
Dua belas mobil hitam mewah terparkir berderet rapi di pelataran lobi apartemenku di kawasan Jakarta Selatan. Di barisan paling depan, terparkir sebuah Rolls-Royce Phantom keluaran terbaru—mobil pengantin yang aku sendiri yang memilihnya. Mobil itu dihiasi ribuan mawar merah segar dan untaian bunga baby’s breath.
Hari ini adalah hari pernikahanku.
Aku berdiri di depan cermin besar, mengenakan kebaya pengantin modern bertabur kristal swarovski rancangan salah satu desainer ternama ibu kota. Sang makeup artist tersenyum puas sambil memoleskan sapuan lipstik terakhir di bibirku.
“Mbak Alyssa, sumpah deh, dari semua pengantin yang pernah saya rias, Mbak Alyssa ini yang paling manglingi dan paling anggun,” pujinya tulus.
Aku hanya tersenyum tipis. Kuangkat ujung gaun panjangku, mengenakan sepatu hak tinggi dari Jimmy Choo, lalu melangkah anggun menuju lift untuk turun ke lobi dan berangkat menuju gedung pernikahan di kawasan Senayan.
Namun, baru saja kakiku melangkah keluar dari lift lobi, tunanganku, Dimas, bergegas menghampiriku.
Ia tampak gagah dalam balutan setelan jas buatan penjahit ternama, tetapi tak ada binar kebahagiaan di wajahnya. Raut mukanya justru dipenuhi kegelisahan dan keraguan. Tanpa aba-aba, ia mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat—begitu erat sampai kulitku terasa perih dan memerah.
“Alyssa, kita harus bicara sebentar. Tolong, kali ini saja tolong mengalah,” bisiknya terburu-buru, bahkan tanpa sedikit pun menatapku dengan rasa kagum.
Aku menatap matanya. “Kenapa, Mas? Ada masalah apa?”
“Penyakit jantung Cheska kumat lagi.”
Cheska. Lagi-lagi perempuan itu.
Sejak pertama kali aku mengenal sosoknya—wanita yang selalu diagung-agungkan sebagai asisten pribadi sekaligus “sahabat masa kecil” Dimas—sepertinya jantungnya tidak pernah sekalipun benar-benar sehat. Setiap kali ada momen penting dalam hubunganku dan Dimas, penyakitnya selalu kambuh di waktu yang sangat tepat.
“Kata dokternya dia nggak boleh kena angin kencang atau guncangan,” cecar Dimas tanpa jeda, raut wajahnya luar biasa cemas. “Bisa nggak dia yang pakai Rolls-Royce itu dulu? AC-nya lebih stabil, suspensinya halus, dan jauh lebih nyaman buat dia istirahat.”
Keningku berkerut dalam. “Maksud kamu apa, Mas? Rolls-Royce itu mobil pengantin. Hari ini yang menikah itu aku, bukan dia.”
“Aku tahu! Tapi tolong pakai otak dan empatimu sedikit dong, Alyssa!” sentaknya kesal, meski suaranya ditahan setengah berbisik karena banyaknya orang di lobi. “Kamu kan bisa naik mobil lain! Di paling belakang ada mobil cadangan bareng anak-anak bridesmaid. Masih muat kok!”
Pandanganku terlempar ke arah yang ditunjuk jarinya.
Di ujung barisan dua belas mobil mewah itu, terparkir sebuah Toyota Limo tua berwarna putih kusam. Di kaca belakangnya tertempel karton lusuh bertuliskan JUST MARRIED. Pintunya penuh baret halus dan knalpotnya bergetar kasar, seolah bisa mogok kapan saja di tengah kemacetan jalanan Jakarta. Itu hanyalah taksi sewaan tua yang sengaja disewa pihak panitia sebagai mobil cadangan logistik.
Sementara di samping Rolls-Royce Phantom, Cheska berdiri tegak.
Ia tidak mengenakan seragam bridesmaid berbahan satin warna sage seperti teman-temanku yang lain. Tubuhnya dibalut gaun brokat putih mewah yang potongannya nyaris menyaingi gaun pengantinku. Riasan wajahnya sempurna, rambutnya tersanggul rapi.
Saat pandangan kami bertemu, ia mendadak menunduk pelan, menyentuh dadanya dengan satu tangan, lalu terbatuk-batuk kecil seolah sedang sekarat. Namun di balik gestur lemah itu, aku melihat jelas sudut bibirnya terangkat tipis.
Sebuah seringai kemenangan. Senyuman pongah yang seolah berbisik: Dimas milikku. Bahkan di hari pernikahanmu, aku yang tetap jadi prioritas utamanya.
Cengkeraman tangan Dimas semakin mengerat. Matanya memohon, namun sarat akan tuntutan.
“Alyssa, cuma hari ini saja. Aku mohon jangan bikin drama memalukan di sini. Ada orang yang lagi sakit parah. Jangan egois jadi perempuan. Ini hari bahagia kita, jangan sampai rusak cuma gara-gara kamu cemburu buta.”
Cemburu buta?
Kupandangi wajah Dimas lekat-lekat. Kupandangi pria yang sudah kucintai dan kupercaya selama dua belas tahun terakhir.
Di sekeliling kami, keluarga besar, tim wedding organizer, fotografer, dan para sahabat mematung canggung. Seluruh lobi mendadak sunyi senyap. Semua orang menahan napas, menunggu apakah aku akan meledak dalam amarah, menangis histeris, atau menampar wajahnya.
Aku terdiam selama beberapa detik.
Lalu… sebuah tawa kecil keluar dari bibirku. Dingin, datar, dan hampa.
“Ya sudah. Silakan,” jawabku singkat.
Dimas menghela napas lega, seolah beban seberat gunung baru saja terangkat dari pundaknya.
“Makasih banyak, Alyssa! Nanti kita ketemu langsung di venue ya. Hati-hati di jalan,” ucapnya cepat tanpa menatap mataku lagi, melepaskan cengkeramannya begitu saja.
Ia bahkan tidak repot-repot membantuku memegangi ekor gaun yang menjuntai berat ke lantai. Dimas langsung berbalik setengah berlari menuju Cheska. Dengan penuh kelembutan, tangannya merengkuh pinggang wanita itu, menuntunnya, lalu membukakan pintu Rolls-Royce. Telapak tangannya bahkan ia letakkan di bibir atas pintu mobil agar kepala Cheska tidak terbentur.
Sebelum masuk ke dalam mobil pengantin itu, Cheska sempat menoleh ke arahku. Matanya berkilat penuh kemenangan sembari melambaikan tangan layaknya seorang ratu yang baru saja merebut mahkota.
Rasa sakit menghantam dadaku bagai dihujam belati dingin, tapi tak setetes pun air mata jatuh membasahi pipiku. Rasa perih itu seketika sirna, berganti menjadi sebuah kejernihan pikiran yang teramat dingin dan mutlak.
Dua belas tahun kebersamaan kami mendadak berputar cepat di kepalaku—dua belas tahun di mana aku selalu mengalah, selalu memahami, selalu meredam egoku demi status “sahabat lama” yang tak pernah punya batasan.
Kusampirkan ujung gaunku ke lengan, lalu melangkah mantap menuju taksi tua berwarna putih di barisan paling belakang.
“Mbak Alyssa! Mbak, ini maksudnya apa?! Kenapa Mbak mau-mau aja diginiin?!” seru Karina, sahabat sekaligus maid of honor-ku, wajahnya merah padam menahan amarah dan kekhawatiran.
Aku menoleh padanya dan tersenyum sangat tipis. “Rin, kalian jalan duluan pakai mobil yang ada. Berangkat saja ke gedung.”
“Terus Mbak Alyssa gimana?!”
“Ada urusan yang harus kuselesaikan lebih dulu.”
Aku membuka pintu dan duduk di kursi belakang taksi sewaan itu. Aroma kabinnya terasa pengap, perpaduan antara bau asap rokok yang mengendap dan wangi kapur barus murah. Sang sopir, seorang bapak paruh baya yang mengenakan kaus polo pudar, menoleh heran dari spion tengah.
“Neng… ini mobil pengantin juga ya? Kita meluncur ke hotel atau ke gedung resepsi mana nih?” tanyanya ragu melihat gaun mewah yang kukenakan.
Melalui kaca jendela yang kusam, kulihat Dimas berdiri di samping Rolls-Royce, melambaikan tangan ke arahku sambil mengisyaratkan gestur tangan: Makasih ya, nanti aku ganti setelah acara beres.
Kualihkan pandanganku sepenuhnya dari pria itu.
Kukunci tatapanku pada sopir di cermin depan.
“Pak… kita jangan ke gedung pernikahan. Jangan juga ke hotel.”
Pak sopir terbelalak kaget. “Loh? Maksudnya gimana, Neng? Ini Neng kan pengantinnya, masa nggak ke pelaminan?”
Kukeluarkan dompet kecilku, menarik beberapa lembar uang seratus ribuan baru, lalu meletakkannya di dashboard depan bersama sebuah catatan alamat. Alamat sebuah unit penthouse baru di kawasan CBD Jakarta—sebuah hunian yang kubeli lunas dari hasil kerja keras dan investasiku sendiri, rahasia yang tak pernah kubagikan pada Dimas.
“Kita ke alamat ini, Pak. Sekarang. Tolong ngebut sedikit,” ucapku dengan nada suara yang tenang, tegas, dan tak terbantahkan.
Sopir itu terdiam sejenak, mengangguk patuh, lalu menginjak pedal gas. Mesin tua itu berderu kasar, meninggalkan pelataran lobi apartemen dan menjauh dari iring-iringan mobil mewah tersebut. Ketika konvoi rombongan pengantin melaju ke arah Senayan, taksi tuaku membelah jalan menuju arah yang berlawanan.
Hanya butuh waktu sepuluh menit sebelum ponsel di genggamanku mulai bergetar tiada henti.
Dimas memanggil…
Kutolak panggilannya.
Dimas memanggil…
Kutolak lagi.
Panggilan ketiga, keempat, kelima… hingga puluhan pesan singkat mulai membanjiri layar dari nomor calon mertua dan keluarga besarnya yang panik menunggu di depan ruang akad.
Tanpa ragu, kumatikan ponsel utama itu sepenuhnya.
Kukeluarkan ponsel cadangan dari dalam tas kecilku, memasang kartu SIM baru yang masih bersih, lalu mengetikkan satu pesan singkat untuk grup percakapan kedua orang tuaku:
“Papi, Mami… tolong batalkan pernikahannya sekarang juga. Umumkan ke semua tamu dan keluarga besar untuk pulang dan nikmati saja hidangan yang ada. Alyssa baik-baik saja, Mami sama Papi jangan khawatir. Alyssa tidak akan pernah mau menyerahkan sisa hidup Alyssa untuk pria yang bahkan di hari pernikahan pun tidak pernah memilih Alyssa sebagai yang utama.”
Taksi berhenti tepat di lobi gedung apartemen pribadiku. Aku turun, berjalan melintasi lobi dengan dagu terangkat tinggi meski gaun berat ini sedikit merepotkan.
Kutempelkan ibu jariku pada sensor pemindai sidik jari di pintu unit lantai teratas. Pintu terbuka dengan bunyi klik pelan, menyambutku ke dalam ruang tamu yang luas, bersih, dan hening.
Sunyi.
Tidak ada Dimas. Tidak ada Cheska. Tidak ada keluarga besar yang selalu menuntutku untuk selalu maklum dan bersabar.
Kulepas sepatu hak tinggi Jimmy Choo itu ke sembarang arah, membiarkan kedua telapak kakiku menyentuh marmer lantai yang dingin. Aku melangkah menuju cermin setinggi langit-langit yang menghadap pemandangan cakrawala kota Jakarta.
Kupandangi pantulan diriku. Riasan ini masih sempurna. Wajahku masih memancarkan pesona terbaikku. Tetapi gaun ini… gaun megah bertabur swarovski ini hanyalah simbol dari dua belas tahun kebodohanku—dua belas tahun menjadi pilihan kedua di hidup seorang pria yang kusebut calon suami.
Aku berjalan ke arah dapur, mengambil sebuah gunting kain berukuran besar dari laci kabinet.
Kembali ke tengah ruang tamu, kuangkat bagian tepi renda dan brokat gaun rancangan desainer ternama itu dengan kedua tanganku.
Kuarahkan bilah gunting yang tajam ke ujung kainnya.
KREK.
Suara sobekan kain yang tebal dan mahal bergema nyaring, memecah kesunyian ruangan, mengakhiri dua belas tahun pengorbanan yang sia-sia.

Kain brokat putih bertabur swarovski itu terkoyak lebar. Setiap sayatan gunting terasa seperti memutus seutas tali kekang tak kasat mata yang menjerat leherku selama dua belas tahun. Potongan-potongan renda bernilai ratusan juta rupiah berserakan di atas lantai marmer kelabu, tak ubahnya sampah pesta yang tak lagi berarti.

Aku meloloskan diri dari sisa gaun yang koyak, melangkah masuk ke kamar mandi, lalu membasuh wajahku di bawah guyuran air hangat. Riasan manglingi dari MUA ternama luntur perlahan terbawa arus, menyingkap wajah asliku—seorang Alyssa yang lelah ditekan, namun kini bernapas dengan dada yang benar-benar lapang.

Kusambar setelan santai berupa celana kulot sutra dan kemeja katun hitam polos. Di meja dapur, ponsel keduaku berdenting pelan. Sebuah balutan pesan dari Papi masuk:

“Papi dan Mami sudah naik ke atas panggung di Senayan. Papi sudah umumkan pembatalan total. Seluruh katering dan suvenir kami persilakan dinikmati ribuan tamu sebagai jamuan amal keluarga Danuarta. Jangan khawatirkan omongan orang, Nak. Putri Papi berhak atas pria yang menjadikannya ratu, bukan pajangan cadangan. Pulanglah kalau kamu sudah tenang.”

Senyum tulus merekah di bibirku. Keluargaku bukan sekadar keluarga berada—Papi adalah konglomerat manufaktur yang disegani, dan Dimas bisa mendirikan perusahaan periklanannya semata-mata karena sokongan modal awal serta jejaring klien dari Papiku.

Satu jam kemudian, kegilaan yang sesungguhnya meledak.

Aku menyalakan televisi layar datar di ruang tengah dan menghubungkan tablet kerja pribadiku ke jaringan internal kantor. Rekaman video amatir dari gedung pernikahan di Senayan sudah beredar liar di berbagai kanal media sosial.

Di layar kaca, aula resepsi megah seluas dua ribu meter persegi tampak gempar. Di hadapan ribuan tamu undangan kelas atas, para pejabat, serta relasi bisnis, Dimas berdiri kaku di depan pelaminan kosong. Wajahnya pucat pasi bagai mayat, jas pengantinnya kusut, dan matanya nanar menatap panggung hiasan bunga yang tak bertuan.

Ibu Dimas pingsan di kursi barisan depan setelah Papi secara terbuka di mikrofon menyatakan bahwa keluarga Danuarta menarik seluruh restu, nama baik, dan hubungan kekerabatan dengan keluarga mereka.

Dan di sudut lorong VVIP, kamera wartawan sempat menyorot Cheska. Wanita itu masih mengenakan gaun putihnya yang mencolok, berdiri mematung sembari memegangi dadanya—namun kali ini, tak ada satu pun orang yang peduli dengan “penyakit jantung”-nya. Seluruh tatapan mata tamu memandanginya dengan bisik-bisik tajam, jijik, dan mencemooh. Di ruang publik Jakarta yang kejam terhadap skandal moral, cap sebagai pengacau rumah tangga orang menempel permanen di dahinya.

Namun pembalasanku belum selesai di pelaminan. Aku tidak berniat menjadi korban yang menangis di pojokan; aku adalah arsitek dari masa depanku sendiri.

Kubuka laptop kerja, masuk ke portal direksi perusahaan holding Danuarta Group, lalu mengetik panggilan video darurat kepada Pak Hendra, kepala konsultan hukum keluarga kami.

“Sore, Pak Hendra. Lakukan apa yang sudah kita susun di berkas rencana kontinjensi A.”

“Baik, Bu Alyssa. Semua siap ditindaklanjuti,” sahut suara tenang di seberang layar.

Daftar tindakannya singkat, presisi, dan mematikan:

  1. Menarik seluruh dana suntikan modal sebesar 65% dari Danuarta Capital di agensi periklanan milik Dimas efektif per pukul 17.00 WIB.

  2. Membatalkan sepihak kontrak sewa gedung kantor agensi mereka—gedung yang kebetulan seratus persen milik anak perusahaan propertiku.

  3. Mengirimkan surat pemutusan hubungan kemitraan dari lima klien korporasi terbesar mereka yang bernaung di bawah payung bisnis keluargaku.

Malam harinya, ponsel pertamaku yang kutinggalkan di apartemen lama akhirnya kulacak lewat tablet. Riwayat panggilan tak terjawab mencapai 187 kali dari Dimas, dan 45 kali dari ibunya.

Pukul delapan malam, suara bel pintu penthouse-ku berdering kencang tanpa henti.

Aku melirik monitor interkom di dinding. Di layar, Dimas berdiri di depan pintu besi lift pribadi. Jas pengantinnya sudah tanggal, dasinya miring, rambutnya berantakan, dan kedua matanya merah bengkak berlumur air mata.

Aku menekan tombol interkom, membiarkan suaraku mengalun dingin lewat pelantang suara. “Ada urusan apa kamu di properti pribadiku, Dimas?”

Dimas tersentak mendengar suaraku, langsung menempelkan wajahnya ke lensa kamera interkom.

“Alyssa! Buka pintunya, sayang… aku mohon, buka! Kita bisa bicarakan ini baik-baik!” suaranya parau dan bergetar hebat. “Kenapa kamu setega ini?! Kamu bikin keluargaku menanggung malu di depan ribuan orang! Reputasiku hancur, Alyssa! Bahkan tadi sore bank menelepon bahwa limit kredit perusahaanku dibekukan dan investor menarik semua dana! Apa-apaan semua ini?!”

“Kamu yang memulai semuanya di lobi tadi siang, Dimas,” balasku santai dari balik pintu yang kokoh. “Kamu menyuruhku naik taksi tua berkarat di hari pernikahanku sendiri demi mengantar asistenmu naik Rolls-Royce. Kamu bilang jangan egois, bukan? Aku hanya mempraktikkan saranmu. Aku memberikan seluruh panggung itu untukmu dan Cheska.”

“Demi Tuhan, Alyssa, Cheska itu cuma sakit! Aku nggak ada perasaan apa-apa sama dia!” raungnya putus asa, memukul pintu baja tahan karat itu dengan kedua tangannya. “Aku cuma kasihan sama dia! Kenapa kamu picik banget cuma gara-gara mobil?!”

“Ini bukan soal mobil, Dimas,” ucapku perlahan, memotong setiap ratapannya dengan nada datar yang menusuk. “Ini soal rasa hormat. Kalau di hari di mana aku seharusnya menjadi wanita paling kamu muliakan saja kamu sanggup menginjak-injak harga diriku demi wanita lain, bayangkan apa yang akan kamu lakukan padaku selama tiga puluh atau empat puluh tahun ke depan.”

Dimas terdiam kaku. Air matanya menetes membasahi kerah kemejanya yang kotor.

“Kamu mencintai kenyamanan dan limpahan fasilitas dari keluargaku, Dimas. Tapi kamu mencintai atensi dan rasa dibutuhkan yang diberikan Cheska. Sekarang, nikmati keduanya tanpa aku. Mulai besok, kantormu harus mengosongkan gedung di SCBD. Dan tolong beri tahu Cheska, tabung uangnya baik-baik—karena asuransi perusahaanmu tidak akan lagi menanggung biaya rumah sakitnya.”

“Alyssa! Jangan lakukan ini, aku mohon! Kita pacaran dua belas tahun, Alyssa! Dua belas tahun masa muda kita!” tangisnya pecah menjadi erangan memilukan.

“Dua belas tahun itu bukan ikatan, Dimas. Itu cuma waktu yang kubutuhkan untuk menyadari betapa murahnya janjimu. Selamat atas pernikahan barumu dengan Cheska. Kalian sangat serasi: yang satu tak punya nurani, yang satu tak tahu diri.”

Kumatikan koneksi interkom secara permanen. Kusalin rekaman pengawas lobi ke pihak keamanan gedung dengan instruksi tegas: seret keluar orang itu jika tidak meninggalkan lantai penthouse dalam lima menit.

Aku berbalik, melangkah menuju balkon terbuka. Angin malam Jakarta Selatan berembus lembut, membelai wajahku. Di bawah sana, kerlap-kerlip lampu ibu kota membentang megah tanpa batas.

Rasa sakit itu sudah sepenuhnya lenyap, berganti dengan kelegaan yang luar biasa murni. Aku kehilangan pria yang salah, tetapi aku berhasil menyelamatkan seluruh sisa hidupku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *